Apa Itu Slip On (SO) Flange: Pengertian, Fungsi, dan Penggunaannya

Slip on flange digunakan secara luas di berbagai sektor industri yang beroperasi dalam tekanan dan suhu moderat. Dalam sistem pipa air, minyak ringan, dan gas non-korosif, tipe flange ini menawarkan keseimbangan ideal antara efisiensi, kekuatan, dan biaya.

Dalam sistem perpipaan industri, flange memegang peran penting sebagai komponen penyambung antara pipa, valve, atau peralatan lain. Dari berbagai jenis flange yang tersedia, Slip On (SO) flange menjadi salah satu pilihan paling populer karena desainnya yang sederhana, pemasangan mudah, serta biaya yang lebih ekonomis dibandingkan tipe lain seperti weld neck atau socket weld.

Meskipun sering digunakan pada sistem bertekanan rendah hingga menengah, slip on flange tetap menawarkan kinerja yang andal dan efisiensi tinggi dalam proses instalasi. Jenis flange ini sering ditemukan dalam sistem perpipaan air, uap, minyak ringan, dan gas dengan tekanan moderat, baik di sektor industri maupun komersial.

Artikel ini akan membahas secara komprehensif tentang pengertian slip on flange, desain dan karakteristiknya, fungsi utama, keunggulan dibanding tipe flange lainnya, serta aplikasi penggunaannya di berbagai sektor industri.

Pengertian Slip On (SO) Flange

Slip On flange adalah jenis flange yang dipasang dengan cara meluncur di atas ujung pipa sebelum dilakukan pengelasan. Berbeda dengan weld neck flange yang memiliki leher panjang untuk pengelasan tirus, SO flange memiliki bore (lubang tengah) yang sedikit lebih besar dari diameter luar pipa, sehingga pipa dapat dimasukkan ke dalam flange dengan mudah.

Setelah pipa dimasukkan, biasanya dilakukan dua kali pengelasan, satu di sisi dalam dan satu di sisi luar flange, untuk menjamin kekuatan sambungan dan mencegah kebocoran. Metode ini dikenal sebagai fillet weld, dan memberikan kekuatan sambungan yang cukup untuk sistem tekanan rendah hingga menengah.

SO flange umumnya memiliki bentuk datar dengan raised face (RF) atau flat face (FF) tergantung kebutuhan tekanan dan media fluida. Raised face lebih umum digunakan pada sistem industri karena membantu distribusi tekanan lebih baik di area gasket.

Selain itu, SO flange diproduksi mengikuti standar internasional seperti ASME B16.5, EN 1092-1, atau JIS B2220, yang mengatur dimensi, rating tekanan, dan material yang digunakan. Dengan adanya standar ini, flange dapat saling menggantikan antarprodusen tanpa masalah kompatibilitas.

Desain dan Karakteristik Slip On Flange

Desain SO flange berfokus pada kemudahan pemasangan dan fleksibilitas. Bore yang sedikit lebih besar dari diameter luar pipa mengurangi kebutuhan penyetelan posisi yang sangat presisi saat pengelasan, sehingga instalasi menjadi lebih cepat dan praktis.

Flange ini memiliki permukaan datar di bagian belakang (hub), dan dapat dibuat dengan raised face (RF) untuk tekanan moderat atau flat face (FF) untuk sistem bertekanan rendah. Beberapa produsen juga menawarkan versi ring-type joint (RTJ) untuk kebutuhan tekanan lebih tinggi, meskipun penggunaannya lebih jarang.

Material yang digunakan untuk SO flange sangat beragam, mulai dari carbon steel (ASTM A105), stainless steel (A182 F304/F316), hingga alloy steel tergantung kondisi operasi seperti suhu, tekanan, dan sifat kimia fluida.

Dari segi ketebalan, slip on flange memiliki ketebalan yang sedikit lebih tipis dibanding weld neck flange. Namun dengan pengelasan ganda (inner dan outer fillet), kekuatannya sudah mencukupi untuk menahan beban mekanis pada tekanan menengah.

Salah satu karakteristik yang membuatnya disukai adalah dimensi total yang lebih kecil, sehingga cocok digunakan pada area instalasi yang terbatas atau sistem yang memerlukan bobot lebih ringan tanpa mengorbankan kestabilan sambungan.

Fungsi Slip On Flange dalam Sistem Perpipaan

Fungsi utama slip on flange adalah menyambungkan pipa ke pipa lain, valve, atau peralatan seperti pompa, tangki, dan filter, dengan memberikan titik sambung yang dapat dilepas bila dibutuhkan. Dengan penggunaan gasket di antara dua flange, sambungan dapat mencapai tingkat kedap yang baik.

Selain berfungsi sebagai penghubung, SO flange juga berperan penting dalam mempermudah proses perawatan dan inspeksi. Karena sistem flange memungkinkan sambungan dibuka kembali, teknisi dapat dengan mudah mengganti bagian pipa atau valve tanpa harus memotong pipa.

Dalam instalasi baru, slip on flange memberikan fleksibilitas dalam penyetelan panjang pipa. Karena flange tidak terpasang secara permanen sebelum dilas, pipa dapat disesuaikan posisinya terlebih dahulu, baru kemudian dilakukan pengelasan. Ini membantu mengurangi kesalahan pemasangan.

Slip on flange juga digunakan sebagai penutup sementara (dummy flange) pada sistem yang belum dioperasikan. Dalam hal ini, SO flange dipasangkan dengan blind flange untuk menutup aliran fluida secara sementara.

Secara umum, fungsi slip on flange meliputi:

  • Menghubungkan dua komponen perpipaan.
  • Menyediakan sambungan yang dapat dibuka kembali.
  • Menyederhanakan perawatan dan penggantian komponen.
  • Menjaga sistem tetap kedap terhadap kebocoran.

Keunggulan Slip On Flange Dibanding Tipe Lain

Dibanding jenis flange lain seperti weld neck, socket weld, atau threaded flange, slip on flange memiliki beberapa keunggulan yang menjadikannya pilihan populer untuk sistem bertekanan rendah-menengah.

Pertama, pemasangannya lebih mudah dan cepat. Mengingat pipa hanya perlu dimasukkan ke dalam flange tanpa harus melakukan beveling, proses penyetelan dan pengelasan dapat dilakukan dengan toleransi yang lebih longgar.

Kedua, biaya fabrikasi dan instalasinya lebih ekonomis. Desainnya sederhana dan tidak memerlukan pengelasan tirus seperti pada weld neck flange, sehingga menghemat waktu kerja dan biaya tenaga las.

Ketiga, tingkat akurasi posisi tidak terlalu kritis. Slip on flange dapat digeser sedikit selama pemasangan, sehingga memudahkan penyesuaian posisi antar komponen perpipaan.

Keempat, karena bentuknya yang lebih ringkas dan ringan, flange ini mengurangi beban struktural pada sistem perpipaan, cocok untuk sistem yang memiliki support terbatas.

Meski begitu, perlu dicatat bahwa slip on flange tidak direkomendasikan untuk sistem bertekanan sangat tinggi atau fluida berbahaya, karena sambungan fillet weld tidak sekuat sambungan full penetration pada weld neck flange.

Kekurangan dan Batasan Penggunaan

Meskipun efisien dan ekonomis, slip on flange memiliki batasan tertentu yang perlu dipahami sebelum digunakan dalam desain sistem perpipaan.

Pertama, kekuatan sambungannya lebih rendah dibanding weld neck flange karena hanya menggunakan las fillet, bukan butt weld. Hal ini membuat SO flange kurang ideal untuk tekanan tinggi atau fluida berbahaya seperti gas bertekanan.

Kedua, kemungkinan korosi di area las lebih besar karena adanya celah antara pipa dan flange sebelum dilas. Jika tidak dilas dengan sempurna, celah ini dapat menjadi tempat berkumpulnya fluida dan menyebabkan korosi celah (crevice corrosion).

Ketiga, penggunaan berulang dapat menurunkan keandalan flange. Setelah dilepas dan dipasang kembali beberapa kali, keausan pada permukaan sealing atau perubahan bentuk akibat panas las dapat menurunkan kemampuan sealing-nya.

Keempat, tidak cocok untuk beban bending tinggi. Desain tanpa leher membuat slip on flange kurang efektif dalam menahan beban lentur pada sistem pipa besar atau panjang.

Oleh karena itu, pemilihan slip on flange sebaiknya didasarkan pada analisis tekanan, temperatur, jenis fluida, serta kebutuhan maintenance dari sistem perpipaan yang dirancang.

Aplikasi Slip On Flange di Industri

Slip on flange digunakan secara luas di berbagai sektor industri yang beroperasi dalam tekanan dan suhu moderat. Dalam sistem pipa air, minyak ringan, dan gas non-korosif, tipe flange ini menawarkan keseimbangan ideal antara efisiensi, kekuatan, dan biaya.

Di industri pengolahan air dan instalasi HVAC, slip on flange digunakan pada saluran distribusi air dingin/panas, cooling tower, dan sistem chiller. Kemudahan pemasangan dan pelepasan menjadi faktor utama pemilihannya.

Dalam sektor industri kimia dan petrokimia, flange ini digunakan untuk pipa dengan tekanan sedang yang tidak membawa bahan kimia agresif. Biasanya dibuat dari stainless steel untuk mencegah korosi akibat uap atau bahan kimia ringan.

SO flange juga dapat digunakan dalam beberapa aplikasi pabrik makanan dan farmasi, khususnya pada jalur utilitas, dengan material stainless steel 304 atau 316L yang tahan korosi dan mudah dibersihkan.

Selain itu, dalam industri maritim dan oil & gas, slip on flange digunakan untuk sambungan pipa air pendingin, pembuangan, atau sistem utilitas lain yang tidak berada di jalur tekanan tinggi.

Prosedur Pemasangan Slip On Flange

Proses pemasangan slip on flange tergolong sederhana, tetapi tetap memerlukan ketelitian agar hasil pengelasan dan penyambungan kedap serta aman digunakan.

Langkah pertama adalah memasukkan flange ke ujung pipa hingga menempel pada posisi yang diinginkan. Pastikan permukaan pipa dan flange bersih dari karat, oli, atau kotoran yang dapat memengaruhi kualitas las.

Kemudian lakukan penyetelan posisi flange agar sejajar dengan komponen pasangan (flange lain atau valve). Keselarasan ini penting untuk mencegah kebocoran akibat tekanan tidak merata pada gasket.

Setelah posisi tepat, lakukan tack weld (pengelasan sementara) di beberapa titik untuk menahan flange tetap pada tempatnya. Lalu lanjutkan dengan pengelasan inner dan outer fillet secara penuh untuk memastikan kekuatan sambungan.

Setelah selesai dilas, periksa hasil las dari kemungkinan porositas atau retak. Langkah terakhir adalah memasang gasket dan baut untuk menghubungkan flange dengan pasangannya, kemudian lakukan uji tekanan (hydrotest) untuk memastikan tidak ada kebocoran.

Pemasangan yang baik tidak hanya meningkatkan keandalan sistem, tetapi juga memperpanjang umur flange dan mencegah masalah di kemudian hari.

Standar dan Klasifikasi Tekanan Slip On Flange

Slip on flange diproduksi berdasarkan standar industri internasional untuk menjamin kompatibilitas dan keamanan penggunaan. Standar yang paling umum adalah ASME B16.5, yang mengatur dimensi flange dari ½ inch hingga 24 inch, dengan kelas tekanan mulai dari Class 150, 300, 400, 600, 900, hingga 1500.

Untuk sistem Eropa, digunakan standar EN 1092-1 dengan rating PN10, PN16, PN25, hingga PN40. Sementara standar Jepang mengacu pada JIS B2220 dengan kelas 5K, 10K, dan 16K.

Dalam aplikasi industri umum, slip on flange paling sering digunakan pada Class 150 dan 300, yang cocok untuk tekanan hingga sekitar 20–50 bar tergantung suhu dan material.

Material flange biasanya dilabeli sesuai kode ASTM, seperti A105 untuk carbon steel, A182 F304/F316 untuk stainless steel, atau A350 LF2 untuk low-temperature service. Pemilihan material harus mempertimbangkan media fluida, tekanan, dan suhu operasi.

Selain itu, beberapa slip on flange juga dilapisi dengan PTFE lining atau epoxy coating untuk menambah ketahanan korosi di lingkungan agresif seperti pabrik kimia atau pengolahan limbah.

Pemeliharaan dan Inspeksi Slip On Flange

Pemeliharaan slip on flange penting untuk menjaga keandalan sambungan dalam jangka panjang, terutama pada sistem yang sering mengalami fluktuasi tekanan atau suhu.

Langkah awal pemeliharaan adalah melakukan inspeksi visual berkala terhadap area las, baut, dan permukaan flange. Pastikan tidak ada tanda korosi, retak, atau kebocoran pada sambungan.

Jika ditemukan kebocoran kecil di area gasket, biasanya dapat diatasi dengan pengencangan ulang baut secara bertahap dan merata. Namun bila kebocoran berasal dari kerusakan las, perlu dilakukan pengelasan ulang (re-weld) setelah sistem dikosongkan dan dibersihkan.

Sebelum sistem dioperasikan kembali, disarankan melakukan hydrostatic test untuk memastikan sambungan masih aman dan memenuhi tekanan desain.

Dalam jangka panjang, flange juga sebaiknya diganti jika mengalami deformasi akibat panas atau tekanan berulang. Penggantian berkala membantu mencegah kegagalan sambungan yang bisa menyebabkan downtime atau kerugian operasional.

Slip On (SO) flange adalah solusi sambungan pipa yang praktis, ekonomis, dan efisien, terutama untuk sistem bertekanan rendah hingga menengah. Desainnya yang memungkinkan pipa “dislip” ke dalam flange sebelum dilas menjadikan instalasi lebih cepat dan mudah dibandingkan tipe lain.

Dengan kekuatan cukup, fleksibilitas tinggi, dan biaya rendah, slip on flange banyak digunakan di berbagai industri seperti air, HVAC, kimia, dan maritim. Namun, penggunaannya tetap harus mempertimbangkan batasan tekanan, suhu, dan jenis fluida agar kinerjanya optimal.

Dalam perencanaan sistem perpipaan, pemilihan tipe flange yang tepat sangat penting untuk menjamin keandalan sistem secara keseluruhan. Untuk aplikasi ringan hingga menengah, slip on flange tetap menjadi pilihan populer berkat keseimbangan ideal antara performa dan biaya.