
Flange adalah kunci keandalan pabrik desalinasi. Pelajari material terbaik, desain, dan coating yang digunakan pada sistem RO, thermal, hingga studi kasus Adelaide.
Bayangkan sebuah pabrik desalinasi yang mengekstraksi air laut untuk digunakan sebagai air minum. Jaringan pipa besar berada di balik alur reverse osmosis atau thermal distillation yang canggih. Jaringan ini terus berhadapan dengan tekanan tinggi, tingkat salinitas yang tinggi, dan suhu yang berubah-ubah. Flange sangat penting dalam situasi seperti ini karena setiap sambungan pipa tidak boleh gagal.
Flange yang digunakan dalam proyek desalinasi bukan sekadar penghubung antar pipa, tetapi juga garda terdepan dalam menjaga sistem tetap aman, andal, dan tahan lama. Karena itu, material, desain, serta perlindungan flange harus dipilih dengan standar tinggi agar bisa bertahan terhadap korosi air laut, beban mekanis besar, serta kebutuhan operasi jangka panjang.
Desalinasi air laut pada dasarnya bertujuan menghilangkan garam dan mineral berlebih dari air laut sehingga aman diminum. Dua metode utama yang banyak digunakan adalah:
Di kedua metode ini, sistem perpipaan menjadi tulang punggung operasi. Pipa membawa air laut mentah, mendistribusikan air hasil penyaringan, serta menyalurkan konsentrat garam kembali ke laut. Setiap titik sambungan pipa membutuhkan flange untuk memastikan koneksi yang rapat, aman, dan mudah dilepas saat perawatan.
Mengoperasikan pabrik desalinasi berarti berhadapan langsung dengan salah satu lingkungan paling ekstrim di dunia industri: air laut. Tekanan tinggi, salinitas yang korosif, hingga kebutuhan perawatan rutin menjadikan pemilihan flange tidak bisa sembarangan.
Pada sistem reverse osmosis, air laut dipompa dengan tekanan antara 60–70 bar agar bisa melewati membran semipermeabel. Di beberapa instalasi bahkan bisa lebih tinggi, terutama jika kualitas air laut buruk atau salinitasnya sangat tinggi.
Air laut mengandung garam terlarut lebih dari 35.000 mg/L. Pada konsentrat hasil RO, tingkat total dissolved solids (TDS) bisa melonjak lebih dari 65.000 mg/L hingga 80.000 mg/L.
Sistem desalinasi bekerja 24/7 dengan komponen mekanis yang terus tertekan.
Selain aspek teknis pipa, industri desalinasi juga menghadapi isu ketersediaan energi.
Lingkungan juga menjadi tantangan besar: pembuangan brine (limbah air dengan TDS sangat tinggi) ke laut dapat mengganggu ekosistem. Hal ini menuntut desain flange dan sistem perpipaan yang aman agar tidak terjadi kebocoran limbah berbahaya.
Kurangnya standar industri global membuat sebagian pabrik masih menggunakan peralatan dengan material rendah mutu.
Pemilihan material flange dalam proyek desalinasi bukan sekadar persoalan teknis, melainkan faktor penentu umur layanan dan keandalan sistem. Lingkungan air laut yang kaya klorida, bertekanan tinggi, serta memiliki konsentrasi garam pekat setelah proses reverse osmosis membuat sebagian besar material konvensional cepat rusak akibat korosi pitting, celah, maupun galvanik. Karena itu, material flange untuk pipa desalinasi harus dipilih dengan sangat selektif.
Beberapa proyek desalinasi juga mengaplikasikan nickel-based alloys (misalnya Alloy 625, Alloy C-276) untuk area yang membutuhkan ketahanan ekstra terhadap korosi campuran (chloride + chemical injection).
Keberhasilan proyek desalinasi flange sangat dipengaruhi oleh desain konstruksi dan sistem pelindung yang digunakan, selain pemilihan material. Salah satu jenis kerusakan paling berbahaya di lingkungan air laut adalah korosi yang lebih cepat karena celah yang dibuat karena desain flange yang salah dapat menyebabkan garam, kelembaban, dan mikroorganisme menumpuk di dalamnya.
Selain desain mekanis, berbagai sistem coating dan proteksi digunakan untuk meningkatkan umur pakai flange:
Kombinasi antara desain flange yang minim celah dan sistem proteksi anti-korosi yang tepat memberikan hasil paling optimal. Misalnya, penggunaan super duplex stainless steel compact flange yang dilapisi viscoelastic coating terbukti mampu menahan kondisi ekstrem pada pabrik desalinasi di Timur Tengah yang beroperasi di bawah tekanan tinggi dan kadar garam pekat.
Adelaide Desalination Project (ADP) di Australia adalah contoh nyata bagaimana teknologi desalinasi memainkan peran penting dalam mengatasi masalah air bersih. Ancaman kekeringan yang parah dan efek perubahan iklim yang mengancam ketersediaan air di South Australia mendorong proyek senilai AU$1.824 miliar ini. ADP sekarang menjadi sumber air yang tidak terpengaruh oleh iklim, sehingga penduduk tidak lagi bergantung pada hujan.
ADP tidak hanya sekedar memproduksi air bersih dari laut, tetapi juga memastikan distribusinya melalui Transfer Pipeline System (TPS) yang menghubungkan pabrik desalinasi dengan Happy Valley Water Treatment Plant (HVWTP). Sistem ini mampu menangani debit 30–375 ML per hari dengan pompa transfer yang dirancang sesuai kebutuhan variabel aliran.
Pipa utama sepanjang 12 km dengan internal diameter 1,515 m dirancang menahan tekanan hingga 25 bar, melintasi kawasan perkotaan, taman konservasi, hingga rumah penduduk. Hal ini menuntut penggunaan material pipa, flange, dan sambungan yang bukan hanya kuat, tetapi juga tahan terhadap tekanan tinggi serta kondisi lingkungan yang sensitif.
Pompa horizontal spindle dipilih untuk mengurangi kompleksitas perawatan di masa depan, meskipun membutuhkan area lebih luas. Desain ini memperhitungkan akses aman bagi teknisi, serta efisiensi jangka panjang. Selain itu, pipa baja yang dilapisi semen juga menggunakan flange dan sambungan khusus untuk menghadapi beban angkat 140–185 m dan tekanan hidrolik tinggi.
Di tempat-tempat penting, seperti jembatan pipa Field River, pipa dirancang untuk berdiri sendiri tanpa membangun struktur jembatan tambahan. Solusi kreatif ini mengurangi biaya pemeliharaan flange dan sambungan pipa dalam jangka panjang dan mengurangi penggunaan baja dan area coating hingga 40%.
Kasus ADP menunjukkan bahwa dalam proyek desalinasi berskala besar:
Metode ini memungkinkan ADP untuk tidak hanya memenuhi kebutuhan akan air bersih, tetapi juga menunjukkan bagaimana perincian teknik, termasuk flange, membantu proyek desalinasi di seluruh dunia menjadi lebih efisien dan berkelanjutan.
Flange dalam proyek desalinasi bukan hanya bagian pipa penyambung tetapi juga komponen penting yang menentukan keandalan sistem secara keseluruhan. Pemilihan flange harus mempertimbangkan material, desain, dan perlindungan tambahan seperti coating anti-korosi karena lingkungan operasinya yang ekstrem, termasuk tekanan tinggi, salinitas, dan variasi suhu.
Flange yang tepat, baik dari segi material maupun desain, akan meningkatkan efisiensi operasional, mengurangi biaya perawatan, dan melindungi sistem dari kerusakan. Dengan kata lain, keberhasilan proyek desalinasi sangat bergantung pada pemilihan flange yang tepat dan berkualitas tinggi sebagai dasar sistem perpipaannya.