
Kapan flange butuh sealant? Kenali fungsinya, jenis-jenis yang aman, risiko salah penggunaan, dan panduan terbaik untuk menjaga sambungan tetap rapat.
Bayangkan sebuah sistem perpipaan yang mengangkut cairan bertekanan tinggi, gas mudah terbakar, atau bahkan bahan kimia berbahaya. Sedikit saja terjadi kebocoran di sambungan flange, risikonya bisa sangat besar: kerugian operasional, bahaya bagi pekerja, hingga pencemaran lingkungan.
Untuk mencegah hal itu, gasket biasanya menjadi komponen utama yang menjamin kekedapan sambungan flange. Namun, di lapangan sering muncul pertanyaan: apakah perlu menambahkan sealant berupa pasta atau cairan pada flange? Apakah benar sealant mampu mencegah kebocoran, atau justru menimbulkan masalah baru?
Menjawab pertanyaan ini tidak bisa hitam putih. Ada kondisi tertentu di mana sealant menjadi penyelamat, tapi ada juga situasi di mana penggunaannya justru berisiko. Itulah mengapa penting memahami fungsi sealant, kapan boleh dipakai, jenis-jenis yang tersedia, sekaligus bahaya yang mungkin timbul jika salah aplikasi.

Flange sealant adalah bahan tambahan berupa cairan, pasta, atau senyawa kimia yang dioleskan pada permukaan sambungan flange. Fungsinya adalah mencegah kebocoran gas maupun cairan yang bisa keluar di celah mikro antara dua permukaan flange. Berbeda dengan gasket yang memang dirancang sebagai elemen utama penahan kebocoran, sealant hanya berperan sebagai pelengkap, terutama ketika kondisi flange tidak ideal.
Sealant bekerja dengan cara membentuk lapisan penghalang kedap (impermeable barrier) di antara permukaan sambungan. Lapisan ini menutup celah kecil, mengkompensasi deformasi, sekaligus memberikan perlindungan korosi pada permukaan logam yang terpapar fluida. Karena itu, sealant sering digunakan pada aplikasi darurat atau saat flange sudah mengalami keausan dan tidak bisa menjamin kekedapan hanya dengan gasket. Namun, hindari sealant di wajah flange untuk spiral wound/kammprofile dan dilarang pada RTJ.
Dalam praktiknya, sealant bukan ditujukan untuk menahan gaya mekanis sambungan, melainkan untuk mengisi ketidaksempurnaan permukaan. Beberapa produk modern bahkan dirancang dengan spesifikasi khusus, misalnya: ketahanan suhu tinggi, ketahanan terhadap bahan kimia tertentu (gas, minyak, asam), elastisitas, serta waktu pengerasan yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Beberapa jenis flange sealant yang umum digunakan di industri antara lain:
Dengan berbagai pilihan tersebut, pemilihan sealant harus disesuaikan dengan karakteristik fluida, kondisi operasi, dan standar industri yang berlaku.
Secara umum, gasket sudah dirancang untuk menutup rapat tanpa tambahan sealant. Jika flange dalam kondisi baik dan gasket yang digunakan sesuai standar, penggunaan sealant sering kali tidak diperlukan. Namun, ada situasi tertentu di lapangan yang membuat sealant menjadi solusi tambahan:
Meski begitu, ada juga kondisi di mana penggunaan sealant dilarang atau tidak disarankan. Misalnya, pada flange dengan tekanan tinggi yang sudah didesain menggunakan gasket khusus, penambahan sealant justru bisa mengganggu distribusi beban baut dan menurunkan performa sealing. Begitu juga pada sistem yang mengalirkan fluida agresif atau suhu sangat tinggi, pemilihan sealant yang salah dapat menyebabkan degradasi material lebih cepat.
Dengan kata lain, penggunaan sealant harus selektif: hanya ketika kondisi flange atau operasi tidak ideal, dan tetap memperhatikan kecocokan material terhadap fluida maupun temperatur kerja.
Sealant tersedia dalam banyak varian, masing-masing dengan karakteristik, kelebihan, dan keterbatasan. Tidak semua cocok untuk aplikasi industri pipa atau flange, sehingga pemilihan harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan operasi. Berikut adalah jenis-jenis sealant yang paling sering digunakan dan relevan untuk sambungan flange:
Dirancang khusus untuk logam, sealant jenis ini mengeras (curing) hanya ketika berada di area tanpa oksigen dan bersentuhan dengan permukaan logam. Sangat efektif menutup celah mikro pada flange dengan permukaan halus atau ulir baut, sehingga mencegah kebocoran fluida bertekanan. Cocok untuk sambungan yang rapat dan permanen, tapi tidak dianjurkan pada celah besar atau permukaan kasar.
Biasa digunakan pada sambungan ulir pipa, thread sealant juga kadang diaplikasikan pada baut flange untuk mencegah kebocoran melalui jalur ulir. Beberapa berbasis cairan atau pasta, ada pula yang mengandung partikel PTFE untuk meningkatkan daya sealing. Cocok untuk koneksi berulir, tapi tidak ditujukan sebagai pengganti gasket di flange datar.
Meskipun sering digolongkan ke “sealant”, fungsinya berbeda: mencegah baut flange macet akibat korosi atau suhu tinggi. Senyawa ini membantu pelepasan flange saat maintenance, namun tidak berfungsi sebagai penghalang kebocoran. Biasanya dipakai bersama gasket standar, bukan sebagai pengganti.
Bersifat elastis, tahan air, dan mampu bertahan pada variasi suhu. Sering digunakan untuk aplikasi umum yang membutuhkan fleksibilitas. Dalam flange, silikon dapat berperan sebagai lapisan tambahan untuk menutup permukaan tidak rata, meskipun pada sistem bertekanan tinggi penggunaannya terbatas.
Salah satu jenis dengan ketahanan kimia dan fleksibilitas tinggi, bahkan bisa diaplikasikan pada kondisi basah. Umur pakainya panjang (hingga puluhan tahun), sehingga digunakan di industri kelautan atau sistem dengan paparan cairan agresif. Namun, biayanya relatif mahal dan tidak selalu diperlukan untuk flange standar.
Mempunyai daya rekat kuat dan tahan abrasi, membuatnya cocok untuk aplikasi konstruksi berat. Dalam konteks flange, polyurethane jarang digunakan, tapi bisa bermanfaat untuk sambungan fleksibel atau non-logam yang memerlukan ketahanan mekanis tinggi.
Meskipun dapat membantu mencegah kebocoran, penggunaan sealant yang berlebihan atau tidak sesuai justru dapat menimbulkan masalah serius pada sambungan flange. Beberapa risiko yang umum terjadi antara lain:
Sealant yang terlalu banyak bisa terdorong ke dalam pipa saat flange dikencangkan. Partikel sealant yang lepas dapat terbawa aliran fluida dan mencemari sistem, terutama berbahaya pada jalur proses kimia, makanan, atau farmasi. Kontaminasi ini dapat menurunkan kualitas produk bahkan menyebabkan kerusakan peralatan downstream seperti pompa atau katup.
Sealant yang mengeras di area yang tidak semestinya dapat membentuk kerak. Lama-kelamaan, material ini bisa terlepas dan menyumbat jalur kecil, orifice, atau instrumen. Hal ini berpotensi mengganggu kinerja alat ukur tekanan/flow, dan menyebabkan ketidaktepatan pembacaan parameter proses.
Tidak semua sealant kompatibel dengan fluida proses. Interaksi bahan kimia tertentu dapat menyebabkan sealant cepat terdegradasi, retak, atau larut. Akibatnya, kebocoran tetap terjadi, bahkan bisa lebih parah karena operator terlena dengan rasa aman semu dari penggunaan sealant.
Jika sealant digunakan secara berlebihan, lapisan yang terbentuk bisa mengganggu dudukan gasket dan distribusi gaya baut. Hal ini menimbulkan misalignment flange atau titik tekanan yang tidak merata, yang justru memperbesar risiko kebocoran. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mengakibatkan deformasi, korosi celah, hingga retakan pada flange.
Kesalahan dalam penggunaan sealant dapat memperburuk faktor-faktor lain yang menyebabkan kerusakan flange, seperti vibrasi, ekspansi termal, atau korosi. Dampaknya tidak hanya kebocoran kecil, tapi bisa menjalar menjadi:
Dalam industri perpipaan bertekanan, penggunaan sealant pada sambungan flange masih menjadi topik diskusi. Standar internasional seperti ASME Boiler and Pressure Vessel Code (BPVC) maupun rekomendasi dari OEM (Original Equipment Manufacturer) umumnya menyatakan bahwa:
Flange dan gasket didesain untuk menciptakan segel mekanis tanpa tambahan sealant. Jika kedua komponen dipasang dengan benar sesuai prosedur torsi baut, biasanya tidak diperlukan bahan tambahan. Penggunaan sealant hanya dipertimbangkan ketika kondisi lapangan tidak ideal misalnya flange tua, permukaan kasar, atau keterbatasan ketersediaan gasket standar.
Setiap pabrikan peralatan biasanya sudah menetapkan material gasket yang kompatibel, torque tightening sequence, dan batas toleransi flange face. OEM juga memberi arahan apakah penggunaan sealant diperbolehkan atau justru dilarang, tergantung aplikasi (misalnya sistem bertekanan tinggi, fluida agresif, atau peralatan dengan standar kebersihan ketat).
ASME PCC-1 (“Guidelines for Pressure Boundary Bolted Flange Joint Assembly”) menekankan bahwa keberhasilan sealing bergantung pada:
Sealant tidak disebut sebagai persyaratan standar dalam ASME PCC-1, melainkan hanya dapat digunakan jika ada alasan teknis khusus yang divalidasi oleh engineer.
Berdasarkan pengalaman industri, praktik terbaik dalam penggunaan sealant pada flange adalah:
Dalam kerangka preventive dan predictive maintenance, penggunaan sealant tidak boleh menggantikan inspeksi rutin. Pengecekan kondisi flange, gasket, dan sistem pengencangan baut tetap menjadi prioritas utama. Sealant hanya berperan sebagai pelengkap sementara dalam mendukung keandalan sambungan.
Meskipun sealant membantu mempertahankan kerapatan sambungan flange, itu hanya berfungsi sebagai pendukung dalam situasi tertentu yang tidak ideal, seperti permukaan flange yang sudah tua atau tidak rata, atau ketika gasket standar tidak tersedia. Dalam situasi biasa, penggunaan gasket yang sesuai spesifikasi dan dipasang dengan benar sudah cukup untuk memastikan sambungan rapat dan aman.
Artinya, penggunaan sealant harus selalu didasari pertimbangan teknis yang jelas, bukan sekadar kebiasaan atau asumsi. Dengan begitu, keandalan sistem tetap terjaga tanpa menambah potensi risiko baru.